(via so-personal)
Benefits of Ayat ul Kursi:
- Recite while leaving your home, and 70,000 Angels will protect you from all sides.
- Recite when entering your home, and poverty won’t enter your home.
- Recite after wudhu, and it raises you 70 times in Allah’s rank.
- Recite before sleeping and 1 Angel will protect you the whole night.
- Recite after Fardh salah and the only thing seperating you from Allah is death.
(via ummatii)
Seperti biasa, kesasar di dunia maya itu rasanya sesuatu banget. Nah, entah angin apa yang membuat saya kesasar di sebuah sudut kecil dunia per-maya-an. Yup, kali ini kita ngliat yang bening-bening ya sob. HAHAHA Ni ada beberapa link yang yah.. mungkin sedikit bisa nambah wawasan >kalo ada orang-orang yang bener-bener kurang kerjaan di dunia nyata ini yang dilampiasin di dunia maya< hahay.. Chek This Out :
Tenang-tenang sob, ini cuman sebagian link aja lho.. oke kita bahas deh satu-satu siapa aja gadis-gadis paling terkenal di dunia maya ini (sok kenal gitu :p) :
Syok banget ni cewek-cewek bisa up banget gitu di dunia maya yah, coba deh search di mbah gugel gitu nama-nama mereka satu-satu. Dari mulai Fesbuk, Twiter, sampe jejaring yang gag begitu populer -plurk- akun dengan nama-nama itu bisa kita temuin lebih dari satu, dua bahkan empat lebih owmegottt.. what a life gitu ye..
(bersambung ntr sore yah.. tungguin)
Akhirnya kunyalakan lagi komputer ini. Setelah mata terasa sudah lelah membaca. Sekian jam menghambakan diri pada buku yang jarang kubaca ketika siang hari. Karena bagiku, siang adalah waktu untuk berbuat dan berpijar, walau kadang hanya sebatas bercengkrama dan ngopi bareng teman di kampus atau sekedar mengelilingi kota Kudus yang kurasa semakin sempit dengan harapan bertemu dengan beberapa kenalan, bertukar masalah yang sedang booming yang tak bisa aku temukan di kampus atau di rumah yang kutempati.
Tapi kenyataan yang kurasakan kepuasan yang tak dapat digantikan dengan apapun. Ada beberapa kejadian sederhana namun mencengangkan yang sering aku lewati ketika aku sedang berada di atas kendaraan. Seperti dalam film Before The Sunrise dan After The Sunset sekaligus. Banyak adegan yang tiap detiknya pasti beda peran, aktor, lokasi dan narasi. Adakah yang bisa menukar kepuasan dengan bentuk yang materil?
Alterbridge, John Meyer, Goo Goo Dolls, Within Temptation dan blink 182 yang aku pilih untuk menemani. Entah mengapa, padahal aku sama sekali tak mahir dalam berbahasa inggris. Bahkan tak satu lagu pun yang aku hapal teksnya secara tuntas. Paling hanya reffrain yang sering kunyanyikan. Persetan dengan itu, aku hanya mencoba membuat pas suasana yang sedang kualami. Sekali-kali campur mellow kurasa tak ada salahnya. Hanya saja, aku selalu punya pikiran, jika terus menerus dijejali dengan segala hal yang berbau mellow, rasanya aku akan menjadi lemah dan susah untuk bangkit.
Hari ini tak sengaja aku baca judul koran yang entah sudah berapa lama tergeletak diatas CPU komputer dalam kamar. Artikel tentang hari ibu. Tapi aku tidak akan membahas banyak tentang hari itu sekarang ini. Aku hanya sedang rindu ibu saja. Ibu yang benar-benar seperti seorang ibu yang mengerti anaknya. Entah ibusadar atau tidak bahwa ada satu hari khusus sebagai hari-nya. Setahuku ibu tak pernah mempermasalahkan dan menganggap meski ada sehari dalam setahun khusus untuk memperingati eksistensinya. Dan bagiku juga, tiap hari dalam tiap tahun adalah hari keeksistensian ibu untukku. Tiap hari aku selalu memperingati hari ibu.
Meski memang sebetulnya –sumpah demi segala rahim-, aku sama sekali tak pernah mau jika ibu tahu keadaanku yang sekarang. Serumit apa anaknya yang didambakan menjalani hidup. Semembingungkan apa si Ucup melanglang. Pasti dia bakal merasa anaknya sudah jauh dari patron-patron yang dia harapkan. Dari kacamata shaleh yang dia anggapkan. Hampir bisa dipastikan penilaiannya berupa kebingungan mengucapkan astaghfirullah atau subhanallah atau alhamdulillah (tapi untuk sampai innalillahi, sebisa mungkin aku tak akan pernah membuat itu terjadi). Itupun kalau memang ibu tahu sepak terjangku menghalau kesialan hidup yang menghadang.
Tiap sadar akan berharganya hidup, maka sebisa mungkin aku mengejawantahkan apa yang sering dikatakan oleh ibu. Ibuku tak pernah menuntut aku untuk jadi bintang kelas dengan IPK yang aduhai. Apalagi menjadi orang mapan dengan segala cukup dari kacamata materi. Pesan ibu dari dulu hanya satu; sebisa mungkin JANGAN BIKIN MALU DIRI SENDIRI. Itu saja.
Dengan tidak buat malu diri sendiri tidak malu pula keluarga dan segala embel-embel latar belakangnya, juga pendidikan yang kumiliki. Meski sekali lagi aku bilang bahwa aku belum bisa 100% mengabulkan apa yang diharapkannya. Dari pola hidup yang kalo menurut ibu sudah menyimpang dari apa yang dia yakini, sampai kuliah yang belum selesai. Dan aku tak akan pernah berani memperdebatkan hal itu.
Tapi minimalnya –sangat minim-, dimata masyarakat dan teman, sejauh ini aku bisa dibilang belum menyimpang. Belum. Bukan tidak. Karena mau tak mau, disadari atau tak sadar, diakui atau tidak, anakmu ini suatu saat bakal bertemu dengan kesalahan yang tak bisa diterima oleh sebagian orang meski aku sangat merasa benar 100% dengan apa yang kulakukan. Hanya sebagian orang. Dan itu wajar. Proses untuk menunjukkan siapa anakmu ini memang tak akan lepas dari peristiwa semacam itu. Proses eksternalisasi diri. Karena sebaik apapun niat, penerimaan dan penolakan pasti menanti. Justru tanpa hal itu, anakmu ini tak akan pernah tahu cara belajar dan bersyukur.
Aku selalu ingat ibu lewat segala perbuatan baik -pasti relatif- yang sebisa mungkin aku lakukan. Karena ibu yang pertama kali mendidik dan mengajarkan apa itu hidup dan bagaimana menghadapinya. Aku tahu (dan kalian juga sama), bahwa tiap ibu pasti mempunyai segudang ilmu dahsyat tentang kehidupan yang bakal diajarkannya. Terlepas dia “berpendidikan” atau “tak berpendidikan.”
Aku tak suka pertengkaran –pernah suatu waktu aku dipalak oleh preman di sebuah terminal di Jawa Timur. Aku sama sekali tidak melawan dan memberikan sedikit uang yang dia pinta. Aku sedih dan marah. Bukan karena sakit hati gara-gara dipalak. Tapi karena aku berpikir ada orang yang hanya demi seperser uang rela mengorbankan segalanya; harga diri, keselamatan, masa depan. Bagaimana kalau aku (orang lain yang bernasib sama) berteriak ketika dipalak? Sudah pasti preman itu dihakimi massa. Digebuki hanya karena uang receh. Sepele. Aku juga membayangkan bahwa tak akan mungkin jika kelakuannya itu adalah pelajaran yang dia dapatkan dari orang tuanya. Orang tua manapun, separah apapun, tak akan pernah ada yang mengajarkan hal seperti itu. Aku nanar karena tak tahu harus menyalahkan siapa.
Aku juga tak pernah (minimal belum) bermain wanita, tak suka mabuk apalagi judi. Meminimalisir sifat dan sikap hedon, masih menjunjung tinggi silaturahim dan akhlak terpuji, juga masih percaya dengan adanya Tuhan. Bukan karena ingin dianggap wajar oleh masyarakat dan teman. Tapi lebih karena aku selalu ingat ibu; pesan ibu.
Maka dari itu. Biarkanlah aku berkelana sejauh yang aku bisa. Mengarungi hidup yang sudah terlanjur sial dengan sistem yang ada (bagaimana tak merasa sial jika bayi yang baru lahir saja sudah menanggung beban hutang jutaan rupiah, jika banyak anak sekolah dipaksa menyanyi nenek moyangnya seorang pelaut, padahal kekayaan lautnya banyak dirampas). Mencoba untuk sekedar menorehkan apa yang aku dapat selama ini. Mencari eksistensi dan esensi diri.
Doakan aku supaya kuat dari segala hinaan dan cemoohan. Menghadapi segala misteri kehidupan yang rindu-dendam aku jalani. Yang selama ini tak lebih hanya untuk kepuasan pribadi semata dengan kedok demi masa depan dan umat. Terlalu mengawang, memang. Seperti impian dalam mimpi.
Tapi satu yang tetap kuminta dan kunanti; jangan pernah persempit ruang pelukanmu untukku. Karena bagaimana pun aku sadar, jika segala teori dan belagu (kesombongan) intelektualitasku tak bisa menjadi jawaban, aku pasti selalu kembali padamu. Mengadu. Bahkan tak malu untuk menangis.
Demi segala rahim yang Tuhan titipkan, utamaku untuk ibu.
Salam hangat,
Putra yang mencoba menyayangimu dengan cara yang berbeda
Nok, kadang ketika aku sedang berdebat hebat dengan keluarga, khususnya dengan ayah yang sering bersebarangan pendapat denganku. Aku merasa malu, karena apa?
Karena aku belum bisa memenuhi permintaan mereka dengan cara yang seperti mereka harapkan. “Kediktatoran” mereka tak hanya menuntut hasil,namun juga prosesnya harus sama dengan apa yang mereka perintahkan. Dan aku tak suka itu.
Aku hanya ingin membahagiakan mereka, mungkin hanya caranya saja yang berbeda. Sebab aku berpikir, aku mempunyai jalan hidupku sendiri.
Surat dibawah ini aku tulis setelah aku membuat ibu menangis, setelah berdebat hebat denganku (dan kebetulan hari itu adalah hari ibu). Aku menyesal, tapi (sekali lagi) aku lelaki yang bersikeras dengan pendapatku. Sehingga aku menuliskan permintaan maaf pada tulisan (tentu dengan sedikit bumbu untuk dramatisir suasana:-)).
Surat ini memang tak pernah kuniatkan untuk kuserahkan pada ibu. Sebab ibu adalah ibuku, dia tentu tahu jalan pikiranku…..
Bacalah, barangkali bisa membantu.
Begitulah caramu menenangkan kekalutanku mas :*
Aku pernah bertanya, kepak sayap burung pasti pulang kan sayang?
dari letih dan di selasar bintang,
bukan elang yang perkasa atau merak yang berpesona, hanya burung tak bernama yang menjelajah riang
Selami laut penuh tawa,seperti jawaban mendung atas hujan
Waktupun betah berlabuh: menunggumu di bulan April
Kuharap, engkau belumlah petang,namun masih jingga di detik yang berdegup
bukan hanya duduk, kaku, lantas mati rasa
dentang jarak,usia, dan bengisnya waktu
Engkau adalah….
Gadis kecil akhir zaman, pelukis masa dan kisah
Kuharap juga bisa berdiri
Setelah tangis, rindu dendam, bahkan sedu sedan
Engkau tetap sama, menawan dengan kerudung merah muda.
Senyumlah….
lalu pendarkan padaku dengan beribu kunang kunang
sampai malam tak lagi gulita dan pagi-pagi berikutnya
Selamat ultah, adikku yang cantik….
080410, trimakasih mas :*
Dan malam ini, gusar menggelayuti saya (lagi). Sampai sejauh ini bolehkah saya berujar Tuhan, “Bahwa saya benar-benar merasa salah jurusan!”
Bakti teruntuk yang tersayang ini, kenapa tak seiring dengan kata ikhlas. Andai portal itu benar ada, ingin aku minta untuk dibawa kemasa 5 tahun lalu.
Lantas akankah hal yang sama akan terulang kembali ke adik-adikku?
Katanya restu mereka juga restuMu Tuhan, bukan maksut menggugatMu, bukan pula bermaksut meragukanMu, tapi saya rasa penyesalan ini tak akan sembuh dan akan saya bawa sampai mati, karena teramat menyakitkan untuk seorang pemimpi seperti saya harus menerima ketetapan ini.
Tuhan aku sayang mereka dan akupun sayang Engkau.
seru kali ya di kamar ada ginian.. #MasukinListOk
(via sexnoise)
MRI Now Stands For “Music Recording Interface”?
This is a very cool. There’s been a lot of music videos made over the years, and coming up with something original is pretty difficult to do. I mean, not everyone can be Björk and animate a video as if your spirit lived inside of a living, functioning cell nucleus.
This new video from British singer Sivu was shot entirely inside an MRI machine! It apparently took 3+ hours to get it done, and having been in an MRI machine before, that does not sound fun. On top of that, it’s a pretty damn good song if I do say so myself.
Of course, this isn’t a functional MRI machine, the version that is sensitive to changes in large-scale brain activity. If it was, what areas might we see lit up?
Well, we’d see several regions active that are responsible for pleasure and emotion, with complicated mouthfuls of names like the ventral striatum, amygdala and ventral medial prefrontal cortex. We’d also see regions controlling the mechanics of speech, like the motor cortex, as well as regions that determine self-awareness so he can hear the pitch and adjust it (the insula, for one). And then when we get to accessing language and memorized lyrics? Well that could light up practically the whole brain in different contexts (from this paper):
I say we look into it. Sounds fun.
(via Open Culture)
(via thescienceofreality)